Banyak orang mengenal terapi oksigen hiperbarik dari kisah para penyelam atau dari kabar tentang pemulihan luka yang sulit sembuh. Di balik namanya yang terdengar rumit, prinsipnya sederhana: pasien menghirup oksigen murni di dalam ruangan bertekanan tinggi, sehingga tubuh menerima oksigen jauh lebih banyak daripada saat bernapas biasa. Artikel ini menjelaskan apa itu terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric Oxygen Therapy/HBOT), kondisi yang dapat ditangani, bagaimana prosedurnya, serta hal-hal yang perlu diketahui sebelum menjalaninya.
Apa Itu Terapi Oksigen Hiperbarik?
Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) adalah metode pengobatan di mana pasien bernapas dengan oksigen murni (100%) di dalam ruangan khusus bertekanan udara tinggi (lebih dari 1 atmosfer absolut atau ATA).
Pada kondisi biasa, oksigen di dalam darah sebagian besar diangkut oleh sel darah merah. Pada tekanan tinggi, oksigen juga larut langsung dalam plasma darah dalam jumlah yang jauh lebih besar. Dengan cara ini, oksigen dapat menjangkau jaringan yang aliran darahnya terganggu atau sedang kekurangan oksigen.
Di RS Mitra Siaga Tegal menggunakan chamber yang Multiplace. Dimana chamber multiplace di RS Mitra siaga dirancang dapat menampung 7 orang sehingga dapat mengurangi rasa bosan selama terapi karena saat terapi bisa berbincang dengan pasien lain atau petugas medis yang mendampingi. dilengkapi dengan fasilitas entertaine seperti mendengarkan music, menonton film, atau membaca buku.
Bagaimana Terapi Ini Bekerja?
Oksigen dalam kadar tinggi memberikan beberapa efek yang mendukung penyembuhan:
• Memperbaiki suplai oksigen ke jaringan yang rusak atau kekurangan oksigen (hipoksia).
• Merangsang pembentukan pembuluh darah baru dan jaringan penyembuh pada luka.
• Membantu melawan infeksi, terutama bakteri yang berkembang tanpa oksigen (anaerob), serta meningkatkan kerja sel darah putih.
• Mengurangi pembengkakan pada jaringan yang cedera.
Kondisi yang Dapat Ditangani dengan HBOT
HBOT bukan terapi untuk segala penyakit. Penggunaannya didasarkan pada indikasi medis yang telah memiliki dasar ilmiah, antara lain:
• Penyakit dekompresi (decompression sickness) dan emboli udara arteri
• Keracunan gas karbon monoksida
• Luka kronis pada penderita diabetes (ulkus kaki diabetik) yang sulit sembuh
• Infeksi jaringan lunak yang berat dan merusak jaringan (misalnya gangren gas dan infeksi nekrotikans)
• Gangguan suplai darah pada jaringan
• Kerusakan jaringan akibat radioterapi (misalnya osteoradionekrosis)
• Cangkok kulit atau flap yang terancam gagal
• Luka bakar tertentu
• Infeksi tulang kronis yang tidak merespons pengobatan standar
• Gangguan pendengaran mendadak dan sumbatan pembuluh darah retina tertentu
• Terapi ini juga mulai digunakan dalam bidang estetika dan kecantikan, seperti rejuvenasi kulit dan perawatan penuaan dini.
Penentuan apakah HBOT sesuai untuk Anda merupakan keputusan dokter setelah pemeriksaan menyeluruh. Terapi ini umumnya berfungsi sebagai pendamping pengobatan utama, bukan pengganti.
Bagaimana Prosedurnya?
1. Konsultasi dan pemeriksaan dokter
Pasien menjalani konsultasi untuk mengevaluasi keluhan, riwayat kesehatan, kondisi fisik, serta kemungkinan adanya kontraindikasi. Dokter akan menentukan apakah HBOT sesuai dengan kebutuhan medis pasien.
2. Pemeriksaan penunjang
Sesuai pedoman pelayanan RS Mitra Siaga Tegal, pemeriksaan rontgen toraks merupakan pemeriksaan wajib sebelum terapi. Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan darah, gula darah, EKG, atau pemeriksaan lain, dapat diminta berdasarkan kondisi dan indikasi medis pasien.
3. Edukasi dan persetujuan tindakan
Pasien mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, prosedur, manfaat yang diharapkan, serta risiko terapi sebelum menandatangani persetujuan tindakan.
4. Persiapan sebelum memasuki chamber
Pasien menggunakan pakaian khusus berbahan katun yang disediakan sesuai prosedur. dilarang membawa barang yang tidak diperbolehkan masuk kedalam chamber seperti ; barang elektronik, korek api, rokok, perhiasan, serta kosmetik atau produk berbahan minyak, dsb.
Pemeriksaan keselamatan dilakukan sebelum pasien memasuki ruang terapi.
5. Pelaksanaan terapi
Pasien masuk ke dalam chamber, kemudian akan diberi tekanan yang dinaikkan secara bertahap sesuai protokol yang ditentukan dokter.
Pasien menghirup oksigen murni melalui masker dengan pola pemberian dan jeda udara biasa sesuai instruksi medis. Selama proses berlangsung, kondisi pasien dipantau oleh petugas baik yang berada di dalam chamber maupun diluar chamber.
6. Evaluasi setelah terapi
Setelah tekanan dikembalikan secara bertahap ke tekanan atmosfer normal, pasien keluar dari chamber dan menjalani evaluasi kondisi umum, tanda-tanda vital, serta keluhan yang mungkin timbul. Perlu diketahui pula, bahwa mungkin akan merasakan lelah, pusing, dan sensasi seperti melayang setelah perawatan. Namun, keluhan tersebut pun bisa hilang setelah Anda beristirahat beberapa saat.
Dokter atau petugas akan menentukan tindak lanjut dan jadwal sesi berikutnya sesuai rencana terapi.
Apakah HBOT Aman? Efek Samping dan Risiko
Terapi hiperbarik umumnya adalah prosedur pengobatan yang aman dimana komplikasi serius dari tindakan ini jarang terjadi.
Akan tetapi, karena terdapat peningkatan konsentrasi oksigen dan tekanan udara selama terapi, terapi oksigen hiperbarik ini memiliki beberapa potensi efek samping dan risiko meliputi:
- barotrauma :
- Cedera pada telinga bagian tengah, termasuk pecahnya membran timpani atau gendang telinga akibat perubahan tekanan udara.
- efek samping oksigen
- Perubahan penglihatan sementara (rabun jauh ringan)
- Potensi risiko lain termasuk terjadinya ledakan dan kebakaran. Hal ini dikarenakan lingkungan perawatan terapi ini kaya akan oksigen murni yang memiliki sifat mudah terbakar.
Beberapa orang mungkin akan merasakan ketidaknyamanan saat berada di dalam ruangan tersebut. perasaan itu muncul akibat adanya perubahan tekanan yang diberikan sehingga akan menciptakan rasa penuh di telinga, mirip seperti apa yang dirasakan ketika sedang naik pesawat atau berada di ketinggian. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena perasaan itu bisa diredakan dengan menguap atau menelan ludah.
Dokter dan perawat akan memantau Anda untuk meminimalkan risiko ini.
Siapa yang Perlu Berhati-hati?
Terapi ini mungkin tidak dianjurkan, atau memerlukan penanganan terlebih dahulu, pada kondisi tertentu, misalnya:
• Pneumotoraks (paru kolaps) yang belum ditangani
• Penggunaan obat tertentu, seperti beberapa obat kemoterapi, yang perlu dinilai dokter
• Kehamilan, yang memerlukan pertimbangan khusus
Sampaikan seluruh riwayat penyakit dan obat yang Anda gunakan kepada dokter sebelum terapi dimulai.
Tips untuk Pasien Sebelum Menjalani HBOT
• Makan secukupnya sebelum sesi dan hindari datang dalam keadaan lapar atau terlalu kenyang.
• Jangan merokok, dan hindari kopi atau minuman berkafein dalam jumlah banyak sebelum terapi. Merokok dapat menghambat penyembuhan dan mengurangi manfaat terapi.
• Jika sedang pilek atau hidung tersumbat, beri tahu petugas karena hal ini dapat menyulitkan penyesuaian tekanan telinga.
• Ikuti seluruh jadwal sesi yang telah ditentukan agar hasil terapi optimal.
Terapi Hiperbarik di Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal
Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal menyediakan layanan terapi oksigen hiperbarik yang ditangani oleh dokter dan perawat terlatih dengan fasilitas chamber yang memenuhi standar keselamatan. Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan dan konsultasi terlebih dahulu agar terapi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatannya.
Hari layanan: Senin - Sabtu Jam layanan: 08.00 – 14.00 Lokasi: HBOT RS Mitra Siaga Tegal
Hubungi / klik Hallo Humas untuk informasi lebih lanjut
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Untuk mengetahui apakah terapi oksigen hiperbarik sesuai dengan kondisi Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan dokter.
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Terapi Oksigen Hiperbarik. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.
2. Howell RS, Criscitelli T, Woods JS, Gillette BM, Gorenstein S. Hyperbaric Oxygen Therapy: Indications, Contraindications, and Use at a Tertiary Care Center: 1.3 www.aornjournal.org/content/cme. AORN J. 2018 Apr;107(4):442-453. [PubMed]
3. Ortega MA, Fraile-Martinez O, García-Montero C, Callejón-Peláez E, Sáez MA, Álvarez-Mon MA, et al. A general overview on the hyperbaric oxygen therapy: applications, mechanisms and translational opportunities. Lietuvis?koji Med. (2021) 57:864. doi: 10.3390/medicina57090864


